Cerpen

IBU

Koningin Emmaplein, 16 januari 2002

            Tidak teasa sudah tiga setengah tahun kami menetap di Den Hag, berarti tinggal 1 tahun lagi tugas ayahku selesai. Kami akan kembali ke Indonesia. Ibu dapat bekerja kembali sebagai pegawai negri sipil, karna selama mengikuti tugas ayah di Den Hag, ibu cuti selama 4 tahun di luar tanggungan Negara. Ibu merelakan karurnya yang terhenti karna mengikuti tugas suami. Padahal ku tahu benar ibu adalah dosen yang berkarir di bagian perguruan tinggi negri. Selama mendampingi ayah sebagai diplomat, ibu tidak menikmati hasil jeripayah ayah. Semua fasilitas yang seharusnya kami nikati, diberikan untuk wanita simpanannya.

            Ini bukan yang pertama ,tetapi kuyakin yang paling parah. Ibu bekerja keras agar kami cukup memiliki uang untuk hidup di sisni. Padahal kalau mau, ibi dapat saja melaporkan keburukan ayah ketasannya , sehingga gaji ayah dapat di berikan kepada ibu sebagiandan tidak perlu berepot repot kerja. Ketika hal itu ku usulkan, beliau menjawab : ibu terbiasa bekerja keras sejak kecil. Ia membaktikan ilmu yang diperolehnya selama kuliah dulu, ehingga bersedia memenuhi permintaan temamn-temannya memberikan les bahsa inggris. Ibu juga memiliki suara yang bagus bila memmbaca al-quran dan beberapa orang dari persatuan wanita muslim Den Hag memintanya mengajarkan membaca al-quran. Denga senang hati beliau mengabulkannya. Ini aalah tugas rangkap yang mendapatkan dua hikmah . hak di dunia yaitu teman dan uang, hak di akhirat yaitu meraih pahala karana mengamalkan ajaran agama. Belum lagi ibi menerima pesanan makanan bila temannya ada yang membutuhkan.

            “Kesempatan berada di luar negri mungkin tidak akan pernah kita dapat lagi, saying. Ibu ingin memiliki cukup pengetahuan dan kenang-kenangan bila kelak kembali ke Indonesia. Pengalaman dan pengetahuan tidak akan dapat tergantikan oleh apapun. “ya, ibu benar, batinku.

            2 januari 2003. Hari ini sungguh tidak terlupakan. Ayah yang sekian lama tidak makan malam bersama kami, duduk bersama menikmati masakn yang memang lezat . adikku tita begitu manja sama ayah. Dia berusaha  menarik perhatian beliau. Sayangnya tita masih begitu kecil, baru 5 tahun, sehingga tidak dapat diajak bicara mengenai masalah yang sedang menimpa keluarga kami. Aku dan tita memang terpaut sepuluh tahun. Aku ingat betapa bahaginnya ketika kutahu ibu hamil dan aku mendapatkan adik cantik dan selucu tita.

            8 maret 2003. Aku pamit kepada kepala sekolah dan seluruh guru. Mereka bergantian memelukku. Mereka memberikan album berisi tulisan tentang riwayat hidup singkat teman – tamn ku dan seluruh guru di sekolahku  berikut foto mereka.

            9 maret 2003. Mobil karavel yang membawa kami ke bandara sudah menunggu. Seorang staf dari kantor ayah sibuk menurunkan koper koper. Ketika memasuki mobil, ibu kembali ke apartemen. Aku menyusulnya. Mungkin ibu membutuhkan bantuan ku bila ada yang tertinggal, pikiran ku. Aku kembali ke mobil . kulihat tita sedang bercanda denga pak sopir. Bahagia sekali melihat adikku selalu ceria . dan hari ini takkan pernah ku sesali keputusan pulang bersama ibu, wanita yang begitu tegar, tambah, dan mandiri.

            Tidak terasa kami sudah tiba di bandara. Begitu banyak yang melepas kepulanggan kami. Ada atas ayah beserta keluarganya. Ada teman –teman sekantor ayah dan teman- teman ibu. Tita banyak mendapatkan kado, begitu pun denganku. Tidak sedikit teman –teman ibu memberikan uang. Aku ingat ucapan ibu, rezeki seseorang tidak akan tertukar denagn yang lain. Dan hari ini allah memberikan kami rezeki lewat teman ibu, nuakn dari ayah. Waktu memasuki pesawat tiba. Kami saling mengucap salam. Ibu memeluk ayah, dan mencium tangannya. “ terima kasih atas kebahagiaan yang ayah berikan pada kami. Jaga diri ayah baik – baik.” Ayah tidak menjawab, hanya menatap kami lekat- lekat, aku memeluk ayah. Kulihat garis – garis tua mulai bersahabat denag wajahnya. Ayah merengkuhku dan tita dalam pelukannya. “ kalian anak-anakku yang sangat menyenagkan jaga ibu ya?” itula kalimat terakhir ayah untuk kami, menelepon dan berusaha  menemui kami, apalagi menafkahi hidup kami.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s